PADANG | Senja mulai merunduk di langit Padang ketika puluhan wartawan dan wartawati dari berbagai penjuru Sumatera Barat melangkah menuju kediaman Ketua LKAAM Sumbar, Fauzi Bahar Dt. Nan Sati. Di bulan suci yang sarat makna ini, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda berbuka puasa bersama, melainkan ruang perenungan tentang arah dan tanggung jawab profesi pers.
Suasana hangat terasa sejak awal. Tawa ringan berpadu dengan sapaan penuh hormat, menciptakan nuansa kekeluargaan yang jarang ditemui di tengah kesibukan kerja jurnalistik yang nyaris tanpa jeda. Ramadhan menjadi jembatan yang mempertemukan tokoh adat dan insan pers dalam satu lingkaran kebersamaan.
Dalam forum yang berlangsung sederhana namun khidmat itu, Fauzi Bahar menyampaikan tausiyah yang menukik pada inti persoalan moralitas profesi. Ia berbicara tanpa sekat, menyentuh sisi batin para jurnalis yang setiap hari bergulat dengan fakta, opini, dan dinamika sosial yang kerap memanas.
Baginya, wartawan bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi penentu arah persepsi publik. Setiap kalimat yang ditulis, setiap judul yang dipilih, memiliki daya pengaruh yang luas. Karena itu, Ramadhan harus menjadi momentum untuk membersihkan niat dan mempertegas komitmen pada kebenaran.
Ia mengingatkan bahwa marwah profesi pers tidak boleh tercemar oleh kepentingan sesaat. Integritas, akurasi, dan keberimbangan adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Tanpa itu, pers akan kehilangan kepercayaan masyarakat, dan ketika kepercayaan runtuh, sulit untuk membangunnya kembali.
Tidak hanya berbicara soal teknis jurnalistik, ia juga menyinggung dimensi spiritual. Puasa, menurutnya, melatih pengendalian diri—sebuah kualitas yang sangat dibutuhkan dalam dunia pemberitaan yang serba cepat. Menahan diri dari tergesa-gesa mempublikasikan informasi yang belum terverifikasi adalah bentuk nyata dari nilai Ramadhan dalam praktik jurnalistik.
Di hadapan para jurnalis, beliau mengaitkan peran pers dengan filosofi hidup masyarakat Minangkabau. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, bukan hanya semboyan, tetapi juga pedoman tindakan. Nilai ini harus tercermin dalam karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga edukatif dan membawa manfaat.
Falsafah tersebut, katanya, mengajarkan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Pers bebas menyampaikan fakta, namun tetap terikat pada etika dan norma yang hidup di tengah masyarakat. Di situlah letak kehormatan profesi yang harus dijaga bersama.
Para wartawan yang hadir tampak menyimak dengan serius. Beberapa mengangguk pelan ketika disinggung soal tantangan era digital, di mana arus informasi mengalir tanpa batas dan media sosial kerap menjadi sumber sekaligus jebakan.
Diskusi pun mengalir. Sejumlah pertanyaan muncul tentang bagaimana menghadapi hoaks, tekanan kepentingan, hingga persaingan kecepatan antarplatform. Fauzi Bahar menanggapi dengan tenang, menekankan pentingnya literasi dan keberanian untuk berkata tidak pada informasi yang meragukan.
Menurutnya, kecepatan tidak boleh mengorbankan kebenaran. Wartawan harus menjadi penjernih, bukan justru memperkeruh suasana. Di tengah masyarakat yang mudah terprovokasi, peran pers sebagai penyeimbang menjadi semakin vital.
Ia juga mengajak insan pers untuk memperkuat solidaritas. Perbedaan sudut pandang adalah keniscayaan, namun persatuan dalam menjaga etika profesi adalah keharusan. Tanpa kebersamaan, pers akan mudah dipecah dan dilemahkan.
Menjelang azan magrib, tausiyah ditutup dengan doa bersama. Hening menyelimuti ruangan, seolah setiap orang sedang berdialog dengan dirinya sendiri, mengevaluasi perjalanan profesi yang telah dilalui.
Kebersamaan sore itu menjadi gambaran harmonisnya hubungan antara tokoh adat dan media. Tidak ada jarak yang kaku, yang ada hanyalah kesadaran bahwa keduanya memiliki tujuan yang sama: membangun masyarakat yang cerdas dan bermartabat.
Momentum Ramadhan ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Pertemuan tersebut menjadi titik tolak penguatan sinergi antara lembaga adat dan insan pers dalam menjaga nilai budaya serta memperkokoh demokrasi di ranah Minang.
Di penghujung acara, pesan tentang integritas, tanggung jawab, dan komitmen terus terngiang. Ramadhan menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita, ada tanggung jawab moral yang melekat. Dan di tangan wartawanlah, sebagian wajah peradaban ditentukan.
Andri HD

0 Komentar